Ning Imaz Fatimatuz Zahra, Pengasuh PP. Al-Ihsan Lirboyo, hadiri seminar nasional dalam rangka Milad ke-3, Komunitas Mahasiswa Unhasy KIP Kuliah (KOMASY) di aula lantai 3 gedung A Unhasy Tebuireng Jombang. Pada kesempatan itu, Ning Imaz Fatimatuz Zahra, menyampaikan cara mengembangkan potensi bagi para pemuda di era digital. Yaitu:
Pertama, memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani , hal ini jelas berupa sandang pangan dan papan sedangkan rohani kaitannya dengan support sistem dari lingkungan, baik dari teman lebih-lebih keluarga sebagai lingkungan terdekat, yang menjamin akan rasa aman dan perlindungan terhadap anak. “Jadi suatu saat jika teman-teman menjadi guru pada generasi Alpha teman-teman harus memperhatikan kebutuhan emosional seorang murid dan kita harus bisa memberikan kebutuhan itu. Seperti halnya seorang guru yang tugasnya tidak hanya sebagai transfer pengetahuan saja. Tapi juga memberikan pemahaman kepada murid bahwa ilmu adalah sesuatu yang menjadi cahaya bagi pemiliknya dan yang mendidik manusia mengenal Tuhannya,” tutur istri Gus Rifqil itu.
Kedua, mencontohkan dan memberikan believe yang benar Mencontohkan dan memberitahu bahwa sesungguhnya islam itu agama yang moderat. Islam adalah universal, berada di tengah-tengah tidak condong ke kanan ataupun ke kiri, tidak ekstream tidak boros dan tidak pula pikir, dan hal inilah yang perlu kita sampaikan atau ajarkan pada anak-anak kita mendatang.
Ketiga, memiliki konsep diri positif Sebagai pemuda yang hidup di era digital, kita harus memahami konsep pemuda itu sebenarnya seperti apa dan hal tersebut sudah dijelaskan dalam Al-Qur’an bawa pemuda itu memiliki prinsip, yakin terhadap prinsipnya dan melakukan prinsip dengan baik. Sebagimana yang Najwa Shihab sampaikan pemuda itu harus bergerak-bergerak dan berdampak. Konsep diri seperti itulah pemuda islam dalam memperjuangkan kebenaran.
Keempat, keberanian untuk mencoba, tidak takut gagal dan keberanian untuk melampaui keresahan.
Kelima, mau terus belajar dan menghargai proses karena dengan proses kita akan terbentuk
Ke-enam, jangan bingung nanti akan menjadi apa Banyak para pemuda sekarang kebingungan nantinya setelah belajar akan jadi apa, maka tawakallah setelah kita berusaha. Biarkan Allah yang mengaturnya.
Ketujuh, melestarikan sejarah serta identitas bangsa Dalam hal ini, menurutnya, pemuda harus rajin belajar karena sekarang zamannya sudah berbeda sangat mudah dan dinamis untuk mendapatkan banyak hal khususnya dalam informasi, maka kita harus benar-benar mengetahui informasi yang benar dan tidak menerima mentah-mentah. Dan kita harus bisa membatasi waktu dalam mengendalikan digitalisasi. Terlepas dari hal itu, Gus Rifqil juga menyampaikan pentingnya pemuda untuk semangat belajar, yang tidak jauh berbeda dengan pesan Ning Imaz yaitu, “Ngaji, ngabdi, baru rabi,”. Untuk diketahui, acara ini juga dihadiri oleh Gus Rifqil Muslim Suyuti, Pengasuh PP. Manbaul Hikmah KaliwunguWakil Rektor 2 Unhasy, Dr. H. Abdullah Aziz Aminuddin, Staf KIP Unhasy, Mutia Iffa, juri penulisan esai nasional, Munawara. Adapun acara ini ditutup dengan foto bersama.

Pewarta: Qurratul Adawiyah